Belajar Hidup Dari Ampas Kopi

Tulisan tentang Belajar Hidup Dari Ampas kopi ini pernah saya posting sekitar tahun 2011 lalu, dalam kondisi yang sama,

frustasi karena nilai ajurrrrr :v

Mungkin saya harus sedikit menoleh kebelakang. Belajar dari beberapa fragmen hidup saya yang seperti fase pertumbuhan bakteri saja, ada fase Lag-nya :v

Waktu itu saya menulis seperti ini,

Hidup itu seperti kopi, bagian termanis selalu ada pada ampasnya

Saya lupa, kenapa ada kalimat kesimpulan seperti itu, yang jelas, sama dengan apa yang saya lakukan malam ini, begadang ga jelas.

Ampas kopi itu hanya ada pada kopi hitam, lebih spesifiknya kopi hitam pasaran yang bisa dibeli dengan harga Rp.1000. Bungkusan plastik seperempat kilo, karena proses grinding biji kopinya manual menggunakan lumpang dan alu, bubuk kopinya cenderung kasar.

Ada kecenderungan dari arang (kopi itu, arang juga kan? :v), yaitu kemampuannya untuk menyerap sesuasyu, dalam konteks ini, gula yang terlarut saat Anda membuat kopi.

Nah,Saat seseorang meminum kopi, mereka cenderung menghindari ampas di dasar gelas. Membuangnya begitu saja.

Dan saya biasanya ambil sendok, nyendoki ampas dan mengisapnya. Sedikit mengganggu karena kadang butiran kasar ampas kopi tadi sering nyempil di mulut.

bodo amat.

Jadi sebenarnya apa yang saya ceritakan dalam posting blog ini?

ga ada.

Saya cuma mau curhat isedikit. Saya kehabisan kopi.

Tinggalkan Balasan